Sabtu, 27 Juni 2009

KASUS PRITA

Keluarga: Begitu Masuk Kejaksaan, Kasus Prita Jadi Aneh
Irwan Nugroho - detikNews

Facebook
Jakarta - Polda Metro Jaya semula hanya menuduh Prita Mulyasari (31) mencemarkan nama baik Rumah Sakit Omni International, Tangerang, Banten. Namun, begitu kasus itu dilimpahkan ke Kejaksaan, Prita juga dikenai pasal pelanggaran UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

"Saat di Polda Metro Jaya, tidak ada masalah sama sekali. Cuma pas masuk ke Kejaksaan, ada yang aneh-aneh," kata kakak Prita, Arief Danardono, kepada detikcom, Selasa (2/6/2009).

Dikatakan Arief, UU ITE tidak disentuh sama sekali oleh polisi dan Prita hanya dikenakan pasal 310 dan 311 KUHP. Saat proses penyidikan, polisi juga tidak menahan ibu dua anak itu.

Pengenaan UU yang baru disahkan oleh DPR itu, kata Arief, didisposisi langsung oleh Kejati Banten. Prita juga langsung ditahan oleh Kejaksaan. "Itu setelah Ibu Prita masuk ke penjara, itu baru ada," jelasnya.

Menurut Arief, keluarga jelas tidak menerima tindakan Kejaksaan tersebut. Sebab, tentu saja pasal di UU ITE sangat memberatkan bagi Prita, yang bekerja sebagai karyawan bank swasta itu.

Prita kini ditahan di LP Wanita Tangerang karena dituduh melakukan pencemaran nama baik terhadap RS Omni International Tangerang lewat internet. Rencananya Prita akan menjalani sidang pidana pada 4 Juni 2009 setelah kalah di sidang perdata.

Kasus yang menimpa Prita ini berawal dari email yang dia kirim kepada teman-temannya seputar keluhannya terhadap RS Omni. Email tersebut kemudian menyebar ke publik lewat milis-milis.

Dalam emailnya, Prita merasa dibohongi oleh diagnosa dokter RS Omni ketika dirawat di RS tersebut pada Agustus 2008. Dokter semua memvonis Prita menderita demam berdarah, namun kemudian menyatakan dia terkena virus udara. Tak hanya itu, dokter memberikan berbagai macam suntikan dengan dosis tinggi, sehingga Prita mengalami sesak nafas.

Saat hendak pindah ke RS lainnya, Prita mengajukan komplain karena kesulitan mendapatkan hasil lab medis. Namun, keluhannya kepada RS Omni itu tidak pernah ditanggapi, sehingga dia mengungkapkan kronologi peristiwa yang menimpanya kepada teman-temannya melalui email dan berharap agar hanya dia saja yang mengalami hal serupa.

Selain dijerat dengan pasal KUHP, Prita juga dikenai Pasal 27 ayat (3) UU ITE No 11/2008. Ancaman hukumannya enam tahun penjara dan denda Rp 1 miliar.

Rabu, 03 Juni 2009

SETANGKUP PROBLEMATIKA SASTRA ANAK INONESIA

By: Mochammad Asrori

Secara umum bacaan anak-anak sekarang pasti tak lepas dari komik. Tak bisa dielakkan, daftar buku terlaris anak pada jaringan toko buku terkemuka menunjukkan golongan buku komik Crayon Shinchan, Yu Gi Oh!, Detektif Conan Special, New Kung Fu Boy, Samurai Deeper Kyo, Naruto, Baby Love, Gals, atau Cerita Spesial Doraemon selalu menjadi pilihan untuk dibeli. Selain buku komik Jepang tersebut, seri terjemahan dari Walt Disney-lah yang sering kali tampak di pasaran. Merebaklah tuduhan bahwa bacan-bacaan tersebut telah memelintir anak-anak bangsa hingga hanya memiliki segelintir nilai-nilai universal yang canggung dan kehilangan akar budayanya. Benarkah? Lalu di mana ya buku bacaan anak karya pengarang dalam negeri?

Sastra anak sebagai salah satu bentuk karya sastra, wujud pertama dapat dilihat dari bahannya, yaitu bahasa. Dalam pemakaian bahasa, sastra anak tidak mengandalkan satu bentuk keindahan sebagaimana laiknya karya sastra. Yang paling penting untuk ditonjolkan dalam sastra anak adalah fungsi yang hadir bersamanya, yaitu aspek pragmatis. Namun karena berpatok kaku pada tataran ini banyak karya sastra anak Indonesia yang terjebak dalam tema yang itu-itu saja, tidak berkembang, terlebih lagi unsur didaktik yang kuat menimbulkan kesan menggurui dan melemahkan cerita.

Di Indonesia tidak banyak pemerhati sastra anak. Sastra anak adalah sastra yang tersisihkan, jarang ada peneliti yang memperhatikan. Jika kita mau menengok, hanya segelintir orang saja yang getol berbicara tentang sastra anak, katakanlah Murti Bunanta, Sugihastuti, Riris K. Toha Sarumpaet, dan Christantiowati. Mereka-mereka inilah yang menelorkan literatur tentang sastra anak, walaupun dalam periode awal, tulisan tersebut adalah hasil olahan dari skripsi.

Literatur tersebut antara lain: (1) Bacaan Anak-Anak: Suatu Penyelidikan Pendahuluan ke dalam Hakikat Sifat dan Corak Bacaan Anak-Anak Serta Minat Anak Pada Bacaannya (Jakarta: UI, 1975) karya Riris K. Toha Sarumpaet, (2) Bacaan Anak Tempo Doeloe: Kajian Pendahuluan Periode 1908-1945 (Balai Pustaka, 1996) karya Christantiowati, (3) Serba-Serbi Cerita Anak (Pustaka Pelajar, 1996) karya Sugihastuti, (4) Petunjuk Praktis Mengarang Cerita Anak-Anak (Balai Pustaka, 1991) oleh Wimanjaya K. Liotohe. Sementara literatur yang paling belakang muncul (5) Cerita Anak Kontemporer (Nuansa, 1999) oleh Trimansyah, dan (6) Problematika Penulisan Cerita Rakyat untuk Anak Indonesia (Balai Pustaka, 1998) oleh Murti Bunanta.

Pembaca pemula di Indonesia pada umumnya mengenal bacaan melalui majalah anak-anak seperti Bobo, Bocil, Mentari, buku-buku picture book terjemahan Gramedia dan Elex Media, juga buku-buku bernuansa islami dari Mizan. Picture book (buku cerita bergambar) banyak mengajarkan anak berbagai ragam tema dan persoalan. Anak sejak usia dini mulai dikenalkan mengenai pluralisme, penyesuaian diri, lingkungan hidup, etika, kontrol diri, kerjasama, berbagi, persahabatan, toleransi, cinta kasih, rasa takut, dll.

Tapi ada juga yang menggunakan picture book sebagai media mengenalkan hitungan, abjad, warna, ukuran, alam semesta, ruang angkasa, tumbuhan, binatang, dll. Beberapa buku juga ada yang tanpa huruf (wordless picture book) yang berguna mengasah anak berbahasa dengan menciptakan ceritanya sendiri menurut pengertiannya mengenai gambar.

Kemudian pada periode lanjutan biasanya disusul oleh bacaan komik-komik Jepang yang begitu banyak ragam judul dan temanya. Baru di sekolah mereka mengenal buku-buku cerita rakyat Indonesia yang menjadi salah satu basis dari genre sastra anak. Buku cerita rakyat di sekolah biasanya dikoleksi melalui program pemerintah, itupun tidak banyak, dari sekitar 2000 hingga 8000 koleksi sekolah, paling kurang dari 60 yang merupakan cerita rakyat. Jika tidak melalui membaca, biasanya anak-anak mengenal cerita rakyat melalui dongeng oleh guru atau orang tua mereka, dan cerita favorit yang biasa diberikan biasanya tak luput dari Timun Mas, Malin Kundang, Bawang Merah Bawang Putih, Cindelaras, Sangkuriang, Lutung Kasarung, atau Joko Kendil.

Sastra Anak Indonesia bisa dikatakan tersubordinat dari bacaan terjemahan. Kenyataannya memang penerbit lebih memilih karya terjemahan dengan alasan ekonomis. Jadilah kita tamu di negeri sendiri. Bejibun karya terjemahan hadir, lihat saja Seri Pustaka Kecil Disney yang terbit 29 judul (al: Cinderella, Putri Aurora, Putri Salju dan 7 Orang Kerdil), delapan judul Seri Petualanganmu yang Pertama, (antara lain: Burung Hantu Kecil Meninggalkan Sarang, Kelinci Kecil Bermain dengan Adik, Ulang Tahun Babi Kecil) oleh Marcia Leonard, 12 judul Seri Boneka Binatang (antara lain: Bello Naik balon Udara, Bello Mendapat Sahabat, Bello Punya Kapal Selam) oleh Tony Wolf, enam judul Seri Jennings oleh Anthony A. Buckeridge, tiga judul Seri Adikku yang Nakal oleh Dorothy Edwards.

Seri-seri detektif juga mewarnai karya terjemahan, misalnya Seri Klub Detektif karya Wolfgang Ecke, Seri Enstein Andersen oleh Seymore Simon, dan Seri Klub Ilmuwan Edan karya Bertrand R. Brinley. Namun ada juga cerita-cerita lucu, seperti 15 judul Seri The Baby Sitter Club karya Ann. M. Martin.

Satu lagi, Ratu Tukang Cerita, Enid Blyton, yang telah mengarang lebih dari 700 judul buku yang diterjemahkan dalam 129 bahasa. Karya terjemahan Enid Blyton bertebaran di Indonesia, tidak kurang ada 28 judul Seri Mini Noddy (al: Belajar Jam Bersama Noddy, Belajar Berhitung Bersama Noddy, Belajar Berbelanja Bersama Noddy), 21 judul Seri Lima Sekawan yang juga telah difilmkan, 6 judul Seri Komplotan, enam judul Seri Kembar, tiga judul Seri Sirkus, enam judul Seri Mallory Towers, dan tiga judul Seri Gadis Badung.

Begitulah, karya-karya terjemahan tersebut telah menenggelamkan karya-karya sastra anak lokal yang tidak dapat muncul dipermukaan. Kebanyakan hanya menghuni rak-rak perpustakaan sekolah karena memang sebagian besar merupakan hasil subsidi pemerintah melalui program Inpres. Tentu saja dibandingkan dengan karya terjemahan yang terbit, kualitas fisik karya lokal tersebut jauh di bawah. Karya-karya terjemahan tersebut muncul dengan tampilan gambar, warna, dan kertas yang menawan.

Kemandegan sastra anak lokal juga diperparah dengan tidak adanya program-program sastra di sekolah dan di perpustakaan yang membicarakan buku lokal, kecuali untuk buku-buku sastra dewasa karya pengarang muda yang cepat sekali mendapat apresiasi dan terjual puluhan ribu kopi, katakanlah Dewi Lestari, Ayu Utami, dan Habiburrahman El Shirazi.

Bahkan siapapun orangnya, posisi pengarang bacaan anak tidaklah menarik untuk dikupas. Hal ini nampak ketika para selebritis menulis buku untuk anak, seperti Soraya Haque, Marisa Haque, Vinny Alvionita, Gito Rollies, Dwiki Dharmawan, dan Monica Oemardi. Bandingkan dengan buku anak karangan Madonna yang biasa saja mutunya tapi gemanya sudah ke mana-mana.

Jika demikian, semakin lemahlah orang-orang yang benar-benar intens di jalur ini, seperti pengarang muda Donny Kurniawan dan Eko Wardhana yang karya-karyanya cukup menjanjikan. Penerbit mizan juga memelopori terbitan serial Kecil-Kecil Punya Karya, walaupun hasilnya bisa dibilang children writing namun cukup efektif mengasah bakat-bakat menulis pada anak.

Pada periode 70 dan 80-an dikenal karya-karya dengan tema toleransi, keragaman budaya, arti perdamaian, dan sadar persamaan gender melalui pengarang-pengarang senior, seperti Suyadi, Alm. Kurnaen Wardiman, Djoko Lelono, Diah Ansori, Alm. Suyono, Dwianto Styawan. Tentu saja sudah banyak yang terlupakan. Namun kiranya karya-karya yang penuh humor, tidak berkhutbah, penuh ketrampilan menggunakan bahasa yang terkadang penuh suspens dan taburan fantasi, menyebabkan karya-karya mereka dapat dimodifikasi menjadi karya kreatif lain, semisal drama radio, drama panggung, dan mendongeng.

Pengarang sastra anak yang cukup beruntung di periode terkini adalah Murti Bunanta yang karya dwi bahasanya Si Bungsu Katak (Balai Pustaka, 1998) mendapat penghargaan internasional, The Janusz Korczak International Literary Prize Honorary Award dari Polandia. Juga karya Legenda Pohon Beringin (KPBA, 2001) yang mendapat hadiah utama Octogones 2002 for Reflets d’Imaginaire d’Ailleurs.

Bukan cuma itu, sebuah buku ceritanya, Kancil dan Kura-kura (KPBA, 2001) yang mengadaptasi cerita dari Kalimantan Barat, telah diterjemahkan dalam bahasa Jepang dan dipanggungkan di sana oleh sebuah grup teater anak profesional selama satu tahun. Murti Bunanta juga diminta oleh penerbit Amerika (Westport, Library Unlimited Inc.) untuk menuliskan buku cerita rakyat Indonesia yang kemudian terbit tahun 2003 dengan judul Indonesian Folktales.

Kini dia menggagas dan menerbitkan buku-buku kecil untuk anak dan pembaca yang mulai belajar bahasa Indonesia. Buku-buku tersebut kemudian diketahui laku dibeli oleh 52 perpustakaan di Singapura dan rencananya juga akan dapat dibeli di Australia.

Tantangan pengarang sastra anak Indonesia dewasa ini jadi demikian berat, karena tidak saja melawan sesama pengarang buku anak di dunia, tetapi juga melawan daya tarik media elektronik dan kemajuan teknologi yang pesat.

Sebuah Perpustakaan Digital Anak-Anak Internasional (International Children’s Digital Library) telah hadir di Library of Conggress (Amerika) di mana telah mencatat 275 buku koleksi yang dipilih dari buku-buku terbaik di dunia yang dapat diakses cuma-cuma melalui jaringan internet. Diperkirakan tahun ini akan mencapai 10.000 buku dalam lebih 100 bahasa. Karya-karya yang dikoleksi meliputi buku action, petualangan, dongeng, cerita pendek, dan drama.

Namun yang paling merisaukan adalah adanya usaha mengambil alih cerita rakyat Indonesia oleh pengarang Barat. Contoh nyata terjadi pada cerita-cerita asal Bali yang kemudian ditulis oleh Ann Martin Bowler dengan ilustrator I Gusti Made Sukanada yang berjudul Gecko’s Complain, juga Balinese Children Favorite Stories yang ditulis oleh Victor Mason dengan ilustrator Trina Bohan-Tyrie.

Rasanya para pengarang cerita anak kita harus cepat bertindak menggali potensi cerita yang banyak bertebaran di bumi Indonesia. Patut diacungi jempol bagi Kelompok Pencinta Bacaan Anak yang telah menerbitkan buku cerita rakyat (2001), antara lain Suwidak Loro, Si Kancil dan Kura-Kura, Kancil dan Raja Hutan, Si Kecil, Si Bungsu Katak, dan Senggutru, apalagi dengan sampul hard cover dan dwibahasa, cerita-ceritanya pun dapat disederhanakan dan didongengkan di kelas untuk anak usia dini.

Jumat, 08 Mei 2009

H1N1

Influenza A virus subtype H1N1

From Wikipedia, the free encyclopedia

Jump to: navigation, search
Influenza

Influenza A virus subtype H1N1, also known as A(H1N1), is a subtype of influenzavirus A and the most common cause of influenza (flu) in humans. Some strains of H1N1 are endemic in humans, including the strain(s) responsible for the 1918 flu pandemic which killed 50–100 million people worldwide. Less virulent H1N1 strains still exist in the wild today, worldwide, causing a small fraction of all influenza-like illness and a large fraction of all seasonal influenza. H1N1 strains caused roughly half of all flu infections in 2006.[1] Other strains of H1N1 are endemic in pigs and in birds.

In March and April 2009, hundreds of laboratory-confirmed infections and a number of deaths were caused by an outbreak of a new strain of H1N1.[2]

Contents

[hide]

Nomenclature

The various types of influenza viruses in humans. Solid squares show the appearance of a new strain, causing recurring influenza pandemics. Broken lines indicate uncertain strain identifications.[3]

Influenza A virus strains are categorized according to two proteins found on the surface of the virus: hemagglutinin (H) and neuraminidase (N). All influenza A viruses contain hemagglutinin and neuraminidase, but the structure of these proteins differs from strain to strain due to rapid genetic mutation in the viral genome.

Influenza A virus strains are assigned an H number and an N number based on which forms of these two proteins the strain contains. There are 16 H and 9 N subtypes known in birds, but only H 1, 2 and 3, and N 1 and 2 are commonly found in humans.[4]

Spanish flu

The Spanish flu, also known as La Gripe Española, or La Pesadilla, was an unusually severe and deadly strain of avian influenza, a viral infectious disease, that killed some 50 million to 100 million people worldwide over about a year in 1918 and 1919. It is thought to be one of the most deadly pandemics in human history. It was caused by the H1N1 type of influenza virus.[5]

The Spanish flu caused an unusual number of deaths because it may have caused a cytokine storm in the body.[6][7] (The recent epidemic of bird flu, also an Influenza A virus, had a similar effect.)[8] The Spanish flu virus infected lung cells, leading to overstimulation of the immune system via release of cytokines into the lung tissue. This leads to extensive leukocyte migration towards the lungs, causing destruction of lung tissue and secretion of liquid into the organ. This makes it difficult for the patient to breathe. In contrast to other pandemics, which mostly kill the old and the very young, the 1918 pandemic killed unusual numbers of young adults, which may have been due to their healthy immune systems being able to mount a very strong and damaging response to the infection.[3]

The term "Spanish" flu was coined because Spain was at the time the only European country where the press were printing reports of the outbreak, which had killed thousands in the armies fighting the First World War. Other countries suppressed the news in order to protect morale.[9]

Russian flu

See Influenza A virus subtype H2N2#Russian flu for the 1889–1890 Russian flu

The more recent Russian flu was a 1977–1978 flu epidemic caused by strain Influenza A/USSR/90/77 (H1N1). It infected mostly children and young adults under 23 because a similar strain was prevalent in 1947–57, causing most adults to have substantial immunity. Some have called it a flu pandemic but because it only affected the young it is not considered a true pandemic. The virus was included in the 1978–1979 influenza vaccine.[10][11][12][13]

North American flu

Illustration of influenza antigenic shift.

Minor outbreaks of swine influenza occurred in humans in 1976 and 1988, and in pigs in 1998 and 2007.

In the 2009 swine flu outbreak, the virus isolated from patients in the United States was found to be made up of genetic elements from four different flu viruses – North American Mexican influenza, North American avian influenza, human influenza, and swine influenza virus typically found in Asia and Europe – "an unusually mongrelised mix of genetic sequences."[14] This new strain appears to be a result of reassortment of human influenza and swine influenza viruses, in all four different strains of subtype H1N1. However, as the virus has not yet been isolated in animals to date and also for historical naming reasons, the World Organisation for Animal Health (OIE) suggests it be called "North-American influenza".[15] On April 30, 2009 the World Health Organization began referring to the outbreak as "Influenza A" instead of "swine flu".[16], and later began referring to it as "Influenza A(H1N1)". Several complete genome sequences for U.S. flu cases were rapidly made available through the Global Initiative on Sharing Avian Influenza Data (GISAID).[17][18] Preliminary genetic characterization found that the hemagglutinin (HA) gene was similar to that of swine flu viruses present in U.S. pigs since 1999, but the neuraminidase (NA) and matrix protein (M) genes resembled versions present in European swine flu isolates. The six genes from American swine flu are themselves mixtures of swine flu, bird flu, and human flu viruses.[19][20] While viruses with this genetic makeup had not previously been found to be circulating in humans or pigs, there is no formal national surveillance system to determine what viruses are circulating in pigs in the U.S.[21]

See also

Notes

  1. ^ "CDC". http://www.cdc.gov/flu/weekly/.
  2. ^ "Swine influenza - update 3". World Health Organization. http://www.who.int/csr/don/2009_04_27/en/index.html.
  3. ^ a b Palese P (December 2004). "Influenza: old and new threats". Nat. Med. 10 (12 Suppl): S82–7. doi:10.1038/nm1141. PMID 15577936.
  4. ^ Lynch JP, Walsh EE (April 2007). "Influenza: evolving strategies in treatment and prevention". Semin Respir Crit Care Med 28 (2): 144–58. doi:10.1055/s-2007-976487. PMID 17458769.
  5. ^ http://www.fas.org/programs/ssp/bio/factsheets/H1N1factsheet.html
  6. ^ Kobasa D, Jones SM, Shinya K, et al (January 2007). "Aberrant innate immune response in lethal infection of macaques with the 1918 influenza virus". Nature 445 (7125): 319–23. doi:10.1038/nature05495. PMID 17230189.
  7. ^ Kash JC, Tumpey TM, Proll SC, et al (October 2006). "Genomic analysis of increased host immune and cell death responses induced by 1918 influenza virus". Nature 443 (7111): 578–81. doi:10.1038/nature05181. PMID 17006449. PMC: 2615558. http://www.pubmedcentral.nih.gov/articlerender.fcgi?tool=pubmed&pubmedid=17006449.
  8. ^ Cheung CY, Poon LL, Lau AS, et al (December 2002). "Induction of proinflammatory cytokines in human macrophages by influenza A (H5N1) viruses: a mechanism for the unusual severity of human disease?". Lancet 360 (9348): 1831–7. PMID 12480361.
  9. ^ Barry, John M. (2004). The Great Influenza: The Epic Story of the Greatest Plague in History. Viking Penguin. ISBN 0-670-89473-7.
  10. ^ CNN interactive health timeline box 1977: Russian flu scare
  11. ^ Time magazine article Invasion from the Steppes published February 20, 1978
  12. ^ Global Security article Pandemic Influenza subsection Recent Pandemic Flu Scares
  13. ^ State of Alaska Epidemiology Bulletin Bulletin No. 9 - April 21, 1978 - Russian flu confirmed in Alaska
  14. ^ "Deadly new flu virus in US and Mexico may go pandemic". New Scientist. 2009-04-26. http://www.newscientist.com/article/dn17025-deadly-new-flu-virus-in-us-and-mexico-may-go-pandemic.html. Retrieved on 2009-04-26.
  15. ^ A/H1N1 influenza like human illness in Mexico and the USA : OIE statement
  16. ^ : Renaming of strain to Influenza A(H1N1)
  17. ^ "Likely Swine Flu In Auckland New Zealand Students". 2009-04-26. http://www.recombinomics.com/News/04260901/H1N1_Swine_Aukland.html.
  18. ^ "GISAID". http://platform.gisaid.org/dante-cms/live/struktur.jdante?aid=1131. . GISAID is freely available, but subject to license terms and currently subject to a backlog of applications following the outbreak. Some discussion of sequence homologies can be found at "FluTracker.com". http://www.flutrackers.com/forum/showthread.php?t=100610. . The first strains released are A/California/09/2009 7M 2009-04-15, A/Texas/05/2009 16M 2009-04-15, A/Texas/04/2009 16M 2009-04-14, A/California/07/2009 54M 2009-04-09, A/California/06/2009 41F 2009-04-16, A/California/05/2009 9F 2009-03-30, and A/California/04/2009 10M 2009-04-01.
  19. ^ Susan Watts (2009-04-25). "Experts concerned about potential flu pandemic". BBC. http://www.bbc.co.uk/blogs/newsnight/susanwatts/2009/04/experts_concerned_about_potent.html.
  20. ^ Dr. Henry Niman at FluTrackers has described the homologies of the genes as PB2 Avian North America, PB1 Human circa 1993, PA Swine Eurasia and/or North America, HA Swine North America, NP Swine Eurasia and/or North America, NA Swine Eurasia, MP Swine Eurasia, NS Swine Eurasia and/or North America.[1]
  21. ^ "Swine Influenza A (H1N1) Infection in Two Children --- Southern California, March--April 2009". CDC MMWR. 2009-04-22. http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/mm5815a5.htm.

External links

Nontechnical

Technical

AMERIKA DI AMBANG BENCANA ALAM

Amerika di ambang bencana alam

Ditulis oleh masbadar di/pada 13 September 2008

Amerika berada di ambang bencana alam. Monster mengerikan bernama “Badai Ike” tengah merapat ke sana, setelah sebelumnya memporak-porandakan negeri-negeri yg dilaluinya. Badai, kekuatan alam, siapapun, bangsa manapun tidak akan sanggup menghadapinya, selain lari dan bersembunyi.

Saya banyak menyaksikan bagaimana Hollywood membuat film-film dasyat bertemakan bencana alam, mulai dari volcanoes, the twister dan sebagainya, kenyataan tentu lebih berbeda.

Sekedar mengingat saja, ketika SBY dilantik jadi presiden pada beberapa tahun silam, Indonesia bagian Aceh, dihajar Tsunami, PR utama sang Presiden adalah membenahinya, alias bencana menjadi bagian dari program kerja 100 harinya.

USA yg menghadapi pilpress 2009, siapapun presiden yg terpilih, maka ia harus belajar dari pak SBY, maksud saya Indonesia, itu jika ancaman bencana badai IKE ini tidak segera berakhir.

Tentu, atas nama kemanusiaan, marilah berdo’a agar mereka yg tidak ikutan dosanya Bush DKK dalam memporak-porandakan negeri-negeri muslim, agar paling tidak selamat dari ancaman bencana itu.

Akan tetapi, bencana tidak memandang salah siapa atau dosa siapa. Sebab ketika “bencana” BBM naik di Indonesia, para ustadz dan kiyai tidak serta merta mendapatkan pengecualian. :)

Memang banyak kasus dan fenomena ajaib ketika tsunami bersilaturrohmi ke Serambi Makkah. Ada banyak masjid yg selamat mulus dari terjangannya, sementara sekitarnya hancur lebur berkalang lumpur. Ada sekeluarga manusia yg hanya hanyut terbawa arus, lalu mereka dan rumah gubuknya yang reot selamat sentosa, sementara ribuan bangunan dan gedung megah lainnya luluh lantak ditelan air.

Ah, barangkali inilah saatnya negara-negara lain termasuk Indonesia bersiap diri menjadi bangsa yang berbaik hati lagi siap menolong. Jika kedatangan IKE memang ditakdirkan menjadi perubahan di USA, setidaknya Indonesia akan jadi negara terdepan dalam membawa panji penyelamatan..

KEBAKARAN DI AUSTRALIA

Kondisi sebagian wilayah di Australia pascakebakaran.

10/02/2009 05:27 - Australia
Kebakaran di Australia Diduga Disengaja

Liputan6.com, Victoria: Kebakaran hutan di Australia, telah menghanguskan lebih dari 2.200 kilometer persegi area di Negara Bagian Victoria dan merenggut sedikitnya 131 korban jiwa. Kebakaran juga membuat tidak kurang dari 750 warga Australia kehilangan tempat tinggal. Hingga saat ini, sisa-sisa kebakaran terlihat jelas di wilayah Victoria Selatan [baca: Korban Tewas Mencapai 128 Jiwa].

Sementara, para korban yang selamat dari kebakaran tampak masih terpukul. Sebagian dari mereka kini ditampung di pusat-pusat pertolongan darurat di sekolah-sekolah dan balai kota.

Polisi pun terus mengusut penyebab kebakaran. Berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan, polisi menduga sebagian titik api dalam kebakaran ditimbulkan dengan sengaja. Untuk pengembangan penyelidikan, polisi menutup Kota Kinglake dan Marysville. Di kedua kota ini terdapat belasan korban jiwa akibat kebakaran.

Namun, temuan indikasi kejahatan ini membuat kesal Perdana Menteri Kevin Rudd. Rudd menepis kemungkinan kebakaran yang menimbulkan 400 titik api ini dilakukan dengan sengaja.

Kebakaran hutan di Negara Bagian Victoria yang telah berlangsung lebih sepekan terakhir membuat pemerintah Australia mengerahkan tentara guna membantu ribuan sukarelawan untuk memadamkan api. Kebakaran ini diklaim sebagai musibah terburuk di Negeri Kanguru dalam 25 tahun terakhir.(ANS)

APA SICH FLU BABI ITU?

Flu babi

Saka Wikipédia, Ènsiklopédhi Bébas ing basa Jawa / Saking Wikipédia, Bauwarna Mardika mawi basa Jawi

Langsung menyang: pandhu arah, golèk
Babi bisa nyandhang virus influenza sng bisa nular marang manungsa.

Flu babi (Basa Inggris: Swine influenza viruses utawa SIV) iku ngarujuk marang kasus influenza sing disebabaké déning Orthomyxoviruses endemic jroning populasi babi.

Strains SIV sing dikenali nganti dina iki diklasifikasèkaké minangka Influenzavirus C utawa salah siji saka werna-werna subtipe saka genus Influenzavirus A.[1]

Flu babi nulari manungsa saben taun lan umumé marang wong sing sesénggolan karo babi, senadyan ana uga kasus panularan liwat manungsa.[2] Gejalané klebu: nggreges (demam}, disorientasin, sendhi krasa kaku, muntah, lan ora sahar nganti tumekaning pati.[3] Virus Influenza A sub tipe H1N1, H1N2, H3N1 lan H3N2 dikenali minangka panyebab infeksi SIV.[4][5] lan H2N3.[6] Ing taun 2005 ditemokaké H5N1 nulari setengah saka populasi babi ing sawetara panggonan ing Indonesia, ananging tanpa nyebabaké gejala.[rujukan?] Chairul Nidom, sawijining virologist saka Universitas Airlangga babagan penyakit tropis ing Surabaya, Jawa Wétan, nganakaké riset mandhiri; ngetès getih saka 10 babi sing katon séhat dikandhangaké cedhak peternakan pitik ing Jawa Kulon sing kena wabah flu burung, Nature nglapuraké.[rujukan?] Lima saka sampel babi ngandhut virus H5N1. Pamaréntah Indonesia wiwit dina kuwi nemokaké asil sing padha ing sawetara dhaérah liya. Tès tambahan 150 babi ing sajabanè tlatah mau asilé negatif.[7] [8]

SEKOLAH GRATIS

Sekolah Gratis

Utomo Dananjaya

SEKOLAH gratis bukan pendidikan gratis. Sekolah gratis membebaskan siswa dari pembayaran SPP dan memperoleh pinjaman buku pelajaran dari perpustakaan sekolah. Pemerintah yang membayarkan SPP pada sekolah negeri dan swasta, dan menyediakan buku di perpustakaan.

PENDIDIKAN gratis, bagi SD dan SMP, pasti artinya bahwa siswa SD dan SMP tidak membayar. Kewajiban membayar dilakukan oleh pemerintah. Jadi, yang dimaksud sekolah gratis adalah siswa bisa sekolah tanpa kewajiban orangtua membayar apa pun (dulu namanya uang sekolah) dan siswa mendapat pinjaman buku dari perpustakaan sekolah.

Secara politis, Presiden akan selamat dari hujatan bahwa Presiden ingkar janji; tak usah bilang "don’t care"-lah. Tak usah begitu, sebab janji ini bisa dipenuhi dengan sederhana. Baca data sensus, sediakan kalkulator, dan sediakan sebesar-besarnya kepedulian pada orang miskin.

Berapa dibutuhkan biaya?

Pertama, menurut data Balitbang Depdiknas tahun 2003, murid SD dan madrasah ibtidaiyah (MI)-negeri dan swasta-berjumlah 25.918.898 orang dan murid SMP dan madrasah tsanawiyah (MTs)-negeri dan swasta-berjumlah 7.864.002 orang. Jadi, jumlahnya adalah 33.782.900 orang. Dari jumlah itu akhirnya yang putus sekolah dan berhenti tamat SD ada 56,2 persen dan yang hanya tamat SMP 16,65 persen. Jadi, putus sekolah dalam wajib belajar 62,67 persen.

Mengapa (mereka) putus sekolah? Karena miskin! Pemerintah memberikan beasiswa, memilih 9,6 juta dari 33,78 juta orang bukan pekerjaan gampang, apalagi yang miskin jumlahnya 21,16 juta. Memberikan beasiswa hanya kepada sebagian kecil orang miskin sia-sia saja. Lebih baik adalah sekolah gratis kepada seluruh siswa wajib belajar (SD-SMP). Caranya, mereka dibebaskan membayar SPP dan diberi gratis buku teks untuk semua.

Berapa diperlukan uangnya? Rencana subsidi untuk murid SD Rp 20.000, satu tahun Rp 240.000, sementara untuk SMP subsidi Rp 720.000 setahun. Sementara harga buku yang harus dibeli murid SD adalah 6 buku @ Rp 25.000. Untuk murid SMP 10 buku @ Rp 35.000. Kebutuhan untuk SD Rp 300.000 dan SMP Rp 700.000 per tahun. Oleh karena buku akan berlaku untuk lima tahun, maka biaya buku dihitung satu kali saja untuk lima tahun. Pemerintah tidak perlu mengeluarkan lagi uang untuk buku dalam lima tahun.

Jumlah SPP murid SD, 25.918.898 x Rp 120.000 jadi Rp 6,22 triliun. SPP murid SMP, 7.864.002 x Rp 720.000 jadi Rp 5,66 triliun. Untuk SPP satu tahun diperlukan uang Rp 11,88 triliun. Adapun untuk buku murid SD Rp 7,76 triliun dan murid SMP Rp 5,50 triliun, jumlahnya Rp 13,6 triliun. Tetapi, buku berlaku untuk lima tahun, jadi dalam satu tahun hanya diperlukan Rp 2,92 triliun per tahun. Dengan demikian, dana satu tahun akademik adalah Rp 16,28 triliun.

Lebih adil

Mengapa lebih baik sekolah gratis daripada beasiswa untuk siswa miskin? Subsidi hanya diperuntukkan bagi 9,6 juta siswa yang harus dipilih dari 39 juta siswa SD, SMP, dan SMA serta SMK. Bayangkan kesulitannya. Lembaga pendidikan formal-juga menurut Pusat Data dan Informasi Pendidikan Balitbang-SD, SMP, SMA, dan SMK berjumlah 179.949 buah, negeri dan swasta, tersebar di 31 provinsi, 432 kabupaten, dan lebih dari 70.000 desa.

Data tahun 2003 tersebut pada bulan Juni 2005 berubah drastis karena kenaikan kelas dan habis program. Pendekatan baru dengan biaya mahal, waktu lama, hasilnya sia-sia dan tidak kena sasaran. Untuk memperoleh nama dan alamat untuk dibuatkan buku tabungan oleh BRI sungguh bukan pekerjaan yang bisa dianggap gampang. Beasiswa tahun lalu, yang dinilai sukses oleh Bank Dunia, pun orang miskin tak tahu-menahu.

Dengan digratiskan, maka kerja keras, uang, dan waktu dihapuskan dengan satu pernyataan Presiden. "Seluruh siswa SD dan SMP dinyatakan gratis. SPP dan buku akan dipenuhi oleh pemerintah. Sebanyak 179.949 lembaga sekolah-negeri dan swasta-segera mendaftarkan diri, membuka rekening di BRI setempat, sambil melampirkan jumlah murid masing-masing sekolah. Sekolah yang memungut bayaran dari siswa SD dan SMP akan ditindak tegas dan dihukum berat. Kepala sekolahnya didenda Rp 500 juta, diberhentikan sebagai tenaga pendidikan. Kepala polsek dan camat diperintahkan melakukan pengawasan dan menerima pengaduan, selanjutnya dilakukan tindakan tegas."

Yakinlah, pengumuman Bapak Presiden seperti ini akan menghentikan demo, mogok, dan kritik-kritik kritis.

Data sensus tahun 2003 menampilkan gambaran bahwa penduduk berusia 10 tahun ke atas terdiri atas 8,5 persen tak masuk SD, 23,0 persen drop out SD, dan 33,0 persen hanya tamat SD, atau penduduk berpendidikan SD ke bawah 64,5 persen. Yang bisa menamatkan SMP dan dilanjutkan ke SMA hanya 16,8 persen. Dari 42 juta usia belajar, wajib belajar hanya mencapai 32,9 persen, atau gagal 64,5 persen.

Maknanya, dalam 60 tahun merdeka, mobilitas sosial berjalan merayap. Anak petani di Karawang, anak perajin keramik di Plered, anak tukang kerajinan anyam di Raja Paloh, dan anak nelayan di Muara Angke tidak pernah bisa berubah nasibnya, seperti bapak atau kakaknya. Anak-anak kita 64,5 persen hanya berpendidikan SD ke bawah. Dengan sekolah gratis, SPP dan buku dibayar oleh pemerintah, kita punya alasan untuk mengajak anak-anak masuk sekolah dan menegur atau mendenda orangtua yang tidak mau menyekolahkan anaknya yang usia sekolah. Wajib belajar berupa memberikan pendidikan semua warga negara, amanat UUD 45 kepada pemerintah dimulai oleh Presiden SBY.

Imbauan belajar bukan wajib belajar

Wajib belajar ala Indonesia tidak identik dengan wajib belajar (compulsory education) seperti yang dipersepsi oleh negara-negara maju, yang secara ekonomis telah lebih makmur. Dalam pengertian negara maju, compulsory education mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: (1) ada unsur paksaan agar peserta didik bersekolah; (2) diatur dengan undang-undang tentang wajib belajar; (3) tolok ukur keberhasilan wajib belajar adalah tiadanya orangtua yang terkena sanksi karena telah mendorong anaknya bersekolah; dan (4) ada sanksi bagi orangtua yang membiarkan anaknya tidak bersekolah.

Adapun ciri-ciri wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun di Indonesia ialah: (1) tidak bersifat paksaan, melainkan persuasif; (2) tidak ada sanksi hukum, dan yang lebih menonjol adalah aspek moral, yakni orangtua dan peserta didik merasa terpanggil untuk mengikuti pendidikan dasar karena berbagai kemudahan telah disediakan; (3) tidak diatur dengan undang-undang tersendiri; dan (4) keberhasilan diukur dengan angka partisipasi dalam pendidikan.

Menyadari bahwa wajib belajar hanya imbauan, adalah fakta bahwa pemerintah atau pejabat memang tidak serius dengan pendidikan. Mereka kurang peduli pada rakyat miskin. Menggratiskan SPP dan buku pinjaman dapat menjadi pertanda kesungguhan pemerintah dan langkah simpatik menuju pemenuhan UUD 1945 Pasal 31 Ayat (4) tentang alokasi APBN dan APBD untuk pendidikan di luar gaji guru. Andai kelak tidak memenuhi 20 persen dari APBN, karena meringankan orangtua, sekolah gratis setara dengan APBN harapan.

Birokrat menyatakan, Mendiknas telah menyerukan agar sekolah tidak memungut SPP. Namun, komite sekolah yang memungut iuran. Tentu saja sekolah swasta akan memungut SPP karena pemerintah tidak mengganti. Jadi bukan imbauan, tetapi undang-undang yang konsekuensi anggarannya di tanggung oleh APBN dan APBD, yang melanggar diberi sanksi.

Birokrasi pendidikan akan bilang tidak mungkin karena tidak pernah menghitung atau memikirkan sekolah gratis. Begitu terjadi sejak Guberment zaman penjajahan Belanda. Pemerintahannya bisa memberi subsidi. Harus ada perubahan pendekatan sikap membiayai pendidikan.

Rencana APBN untuk sektor pendidikan saja sebesar Rp 19,6 triliun-Rp 24 triliun. Untuk membiayai 445 program. Anggaran sebesar itu dibagi menjadi delapan fungsi. Masing-masing fungsi secara tradisional memperoleh alokasi tetap sejumlah persentase tertentu. Jadi mulai alokasi sektor, dibagi pada alokasi fungsi, dan masing-masing fungsi membagi pada alokasi program. Wajib belajar sembilan tahun masuk dalam fungsi pendidikan dasar sembilan tahun (SD dan SMP), dengan jumlah programnya 33 program.

Dengan membaca program-program tersebut, dengan mudah kita melihat bahwa kenaikan anggaran tidak mengarah pada pembebasan biaya belajar. Dalam rencana anggaran lima tahun, anggaran pada Depdiknas memang dirancang naik, tetapi tidak mengarah pada sekolah gratis. Biaya itu dirancang meningkatkan biaya birokrasi pendidikan. Jadi, Mendiknas tidak pernah punya program strategis untuk pemetaan pendidikan.

Maka, dalam penyusunan APBN, diperlukan perubahan pendekatan. Dimulai dari menentukan kegiatan yang dirancang untuk mencapai tujuan, yaitu pemerataan pendidikan atau memberikan pendidikan kepada seluruh warga negara, yaitu menyelamatkan 24,9 juta usia sekolah masuk SD sampai tamat SMP. Untuk mudahnya: sekolah gratis!

Hitungan anggaran pendidikan yang 20 persen selalu dibuat dengan lebih dahulu menginventarisasi biaya macam-macam sehingga didapat angka seluruhnya mencapai Rp 67 triliun. Angka ini diperoleh dengan menghitung biaya pendidikan meliputi biaya gaji, bangunan, alat bantu belajar, alat tulis, pengelolaan, pengawasan dan penilaian, dan lain-lain. Cara menghitung semacam ini tidak memecahkan masalah. Apalagi telah terbelenggu dengan model alokasi proyek menurut fungsi.

Meringankan pemerintah

Pemerintah pusat masih bisa diringankan oleh beberapa hal. Pertama, APBD, di mana telah ada sejumlah pemda yang telah punya program mengganti SPP dan buku dengan APBD, sekurang-kurangnya dilakukan oleh 45 kabupaten penerima dana alokasi khusus dan dana perimbangan tiap daerah.

Kedua, sekolah swasta yang menentukan tarif tinggi tidak memperoleh penggantian SPP dan buku. Sekolah swasta ini jumlahnya hanya lebih kurang 25 lembaga. Bahkan, sekolah mahal ini dapat dikenai pajak penghasilan. Sekolah swasta harus mendapat izin untuk memungut biaya dari pemerintah, diatur tata caranya dalam UU wajib belajar. Sebelum UU tersebut ada, ya, salah satu pasal dari inpres wajib belajar. Sekolah swasta yang menarik bayaran tidak mendapat izin pemungutan dikenai sanksi kriminal: pemerasan dan penggelapan atau korupsi. Mereka tentu akan protes, tetapi hanya menyangkut sejumlah kecil anak-anak orang kaya yang ingin memperoleh hak istimewa dengan masuk sekolah unggulan. Bagi mereka yang tidak mau bayar, masuklah ke sekolah gratis SPP dan buku.

Ketiga, menurut Ikatan Penerbit Indonesia, harga buku Rp 25.000 atau Rp 35.000, biaya produknya hanya 20 persen saja. Jadi, harga buku bisa ditekan hanya 20 persen, dari Rp 2,92 triliun per tahun hanya Rp 584 miliar saja, atau dana Rp 2,92 triliun untuk kebutuhan satu tahun (SD dan SMP) cukup untuk memenuhi kebutuhan lima tahun.

Dengan mengubah pendekatan penyusunan anggaran pendidikan dalam APBN dan APBD, dengan menghitung berdasarkan data pendidikan Balitbang atau Susenas, dan dengan sebesar-besarnya kepedulian pada anak miskin, maka pemerataan pendidikan, penanggulangan drop out, dan kesediaan membuat sekolah gratis selamatkan Presiden SBY dan Mendiknas Bambang Sudibyo.

Utomo Dananjaya Direktur The Institute for Education Reform Universitas Paramadina